Diposkan oleh Ali Sina pada 5 Desember  2010

Peperangan-peperangan di jazirah Arab, sebelum jaman Islam, tidaklah signifikan dibandingkan dengan perang-perang yang dikobarkan oleh Muhammad dan para penguasa Muslim lainnya. Sebelum jaman Islam, perang-perang yang terjadi terutama disebabkan oleh perselisihan antar suku dan untuk membatasi serangkaian pertikaian kecil lewat beberapa perang. Dengan kemunculan Islam, yang timbul kemudian bukan hanya perang namun juga genosida dan teror yang tidak terelakkan yang dengan cepat menjadi komponen integral dalam ekspansi Islam.

Tahun-tahun pertama karir kenabian Muhammad, di kota asalnya di Mekkah, merupakan tahun-tahun yang penuh damai. Setelah 13 tahun berkhotbah, hanya sekitar 80 atau 100 orang yang menjadi pengikutnya. Hanya segelintir orang saja di antara mereka yang mempunyai keahlian untuk bertempur. Itu menjelaskan mengapa tahun-tahun pertama itu adalah tahun-tahun yang damai. Orang Muslim tidak mempunyai kekuatan untuk berperang.

Segera setelah Muhammad pindah ke Medina dan lebih banyak lagi orang Arab menjadi Muslim melalui agama Islam yang disebarkan Muhammad, ia pun mulai menyerang dan menjarah, pertama para pedagang karavan dan kemudian daerah-daerah pendudukan.

Tidak lama setelah Muhammad memperkuat posisinya di antara orang-orang Arab di Medina, ia mengepung pemukiman Yahudi Bani Qaynuqa, populasi orang-orang kaya yang adalah para pedagang emas dan pandai besi. Setelah menyita properti mereka (ladang-ladang dan rumah-rumah) dan harta milik (perhiasan dan senjata), ia mengusir mereka dari tanah leluhur mereka. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke Bani Nadir, suku Yahudi lainnya di Medina. Ia melakukan hal yang sama kepada mereka. Ia membunuh para pemimpin dan banyak orang kuat mereka dan setelah menyita properti dan kekayaan mereka, ia mengusir mereka dari Medina. Dalam kedua peristiwa itu orang Yahudi tidak memberi perlawanan apapun.

Itulah kemenangan-kemenangan Muhammad atas kaum yang lebih lemah, yang tidak dapat berperang dan orang-orang yang tidak mendatangkan ancaman dan yang setuju untuk menyerahkan kekayaan mereka sebagai ganti hidup mereka. Dan karena dipacu lebih jauh oleh ketamakan yang tidak terpuaskan serta nafsu untuk mendapatkan kekuasaan, maka orang yang menobatkan dirinya sendiri sebagai nabi Allah ini kemudian mengarahkan pandangannya kepada suku-suku Yahudi lainnya di Arab yang tinggal di luar Medina. Kali ini giliran Bani al-Mustaliq.

Bukhari, penulis biografi Muhammad yang terbesar, mengisahkan penyerangan terhadap Bani al-Mustaliq dalam kisah berikut ini (Hadith Sahih):

Dikisahkan Ibn Aun: Aku menulis sebuah surat kepada Nafi, dan Nafi membalas suratku dan mengatakan bahwa Nabi telah menyerang Bani Mustaliq dengan tiba-tiba tanpa peringatan ketika mereka tidak waspada dan hewan ternak mereka sedang dibawa ke tempat berair untuk minum. Para pejuang mereka dibunuh dan para wanita dan anak-anak mereka dibawa sebagai tawanan; pada hari itu nabi mendapatkan Juwairiya. Nafi mengatakan bahwa Ibn ‘Umar mengatakan padanya kisah di atas dan bahwa Ibn ‘Umar ada dalam pasukan itu. Volume 3, Book 46, Number 717:

Hadith yang sama ini dimuat dalam Sahih Muslim Buku 019, Nomor 4292, yang mengesahkan otentisitas kisahnya.

Muhammad membentuk agamanya mengikuti wawasan Yudaisme dengan harapan orang Yahudi akan menjadi orang-orang pertama yang memenuhi panggilannya. Ternyata ia harus kecewa, karena orang Yahudi tidak berminat terhadap agama yang disebarkannya, dan karena itulah maka ia tidak pernah mengampuni mereka karenanya. Anda tidak dapat menolak seorang yang narsistik seperti Muhammad tanpa membangkitkan kemarahannya. Muhammad sangat kecewa sehingga ia bersegera mengubah arah kiblat (arah yang harus dituju orang Muslim saat bersholat) dari Yerusalem ke Ka’ba, padahal waktu itu Ka’ba masih merupakan kuil berhala-berhala (!) dan menjadikan orang Yahudi sebagai kambing hitam yang merintangi Muslim menjadi pengikutnya.

Orang-orang Arab di Medina pada umumnya hanyalah sekelompok orang yang buta huruf dan hanya mempunyai sedikit keahlian serta umumnya merupakan orang-orang miskin, yang mencari nafkah dengan bekerja di ladang-ladang anggur orang Yahudi dan memberikan pelayanan-pelayanan lainnya kepada mereka atau kerja serabutan. Pada mulanya mereka adalah kaum imigran dari Yaman, sedangkan orang Yahudi adalah para pedagang kaya dan pemilik tanah, dan Medina telah menjadi tanah air mereka selama 2000 tahun. Mereka adalah sasaran empuk Muhammad dkk. Ia memangsa kekayaan mereka, memperbudak para wanita dan anak-anak mereka dan mendistribusikan mereka untuk orang-orang Arab. Ia meyakinkan para pengikutnya bahwa menyerang dan membunuh sudah ditetapkan oleh Allah sendiri (a.l. Qs 8:17). Sejak itu karir kenabiannya menjadi sangat menanjak, yang mengubah keberuntungannya, dan ia mendirikan agama barunya itu di jalan perang dan penaklukkan militer.

Muhammad mengutus salah seorang sahabatnya, yaitu Bareeda bin Haseeb, untuk memata-matai Bani al-Mustaliq. Setelah meneliti situasi, ia memerintahkan orang-orangnya untuk melakukan penyerangan. Orang-orang Muslim keluar dari Medina pada tanggal 2 Shaban tahun 5 Hijriah, dan berkemah di Muraisa, sebuah tempat yang jauhnya 9 pal batasan dari Medina.

Yang berikut ini diambil dari sebuah situs Islam:

Berita mengenai majunya pasukan-pasukan Muslim telah mencapai Haris. Dalam kepanikan, orang-orangnya meninggalkannya dan ia sendiri berlindung di sebuah tempat yang tidak diketahui. Tetapi penduduk lokal Muraisa berperang melawan orang Muslim dan menghujani mereka dengan panah yang tidak habis-habisnya. Orang-orang Muslim meluncurkan serangan mendadak dan kejam serta mengepung musuh, yang mengalami banyak korban dan hampir 600 orang ditawan oleh orang Muslim. Di antara jarahan yang diambil adalah 2000 ekor unta dan 5000 ekor kambing.

Di antara para tawanan terdapat Barra, anak perempuan Haris, yang kemudian menjadi Hazrat Juwairiyah, gundik sang Nabi Suci. Sesuai dengan praktek pada waktu itu semua tawanan dijadikan budak dan dibagi-bagikan di antara prajurit-prajurit Muslim yang menang. Hazrat Juwairiyah jatuh ke tangan (salah satu prajurit) Thabit bin Qais. Sedangkan Hazrat Juwairiyah adalah putri pemimpin klan, dan oleh karena itu tentulah sangat tidak pantas ia dijadikan budak seorang prajurit Muslim biasa. Oleh karena itu ia meminta Thabit agar melepaskannya dan akan diganti dengan uang tebusan. Thabit menyetujuinya, jika ia dapat membayar 9 Auqia emas. Hazrat Juwairiyah saat itu tidak mempunyai uang. [Memangnya dia punya uang di bank? Muhammad telah menjarah semua yang ia dan kaumnya miliki. Bagaimana mungkin ada uang di sakunya atau suatu tempat lain?] Ia berusaha mengumpulkan uang sejumlah yang diminta dengan mengumpulkan sumbangan, dan mendekati Nabi Suci untuk itu. Ia berkata kepada Nabi “Wahai nabi Allah! Aku adalah putri Al Haris bin Zarar, pemimpin kaumnya.  Engkau tahu, kebetulan bangsa kami telah ditawan [kebetulan? Menurut saya Muhammad telah menyerang mereka] dan saya telah menjadi bagian Thabit bin Qais dan telah memintanya untuk melepaskanku mengingat statusku, tetapi ia menolak. Aku mohon, lakukanlah suatu tindakan yang baik dan selamatkanlah aku dari penghinaan”. Sang Nabi Suci tersentuh hatinya [aaah..., ia tersentuh. Betapa lembutnya!] dan bertanya kepada tawanan wanita itu apakah ia ingin sesuatu yang lebih baik. Wanita itu menanyakannya apakah itu. Ia berkata ia siap membayar tebusannya dan menikahi wanita itu jika ia setuju. Wanita itu menyetujui proposal tersebut. Lalu Nabi Suci SAW (Shallallahu Alaihi wa Sallam) membayar uang tebusannya dan menikahi wanita itu”.

Kisah di atas adalah tentang bagaimana Muhammad menikahi Juwairiyah seperti yang ditulis oleh para sejarawan Muslim. Menariknya, Muhammad membuat Allahnya memujinya dengan ayat-ayat seperti berikut ini: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Quran 68:4). dan Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (Quran 33:21). Pertanyaan yang harus dijawab adalah: apakah ia benar-benar adalah Insan Kamil  standar budi pekerti dan moral yang baik serta teladan yang baik untuk diikuti tanpa kritik apapun?

Pertama, ia menyerang penduduk tanpa peringatan dan mengejutkan mereka. Ini disebut terorisme. Mengapa? Karena mereka adalah sasaran empuk dan kaya raya. Seperti biasanya ia membunuh orang yang tidak bersenjata, menjarah harta milik mereka, kemudian memperbudak orang-orang yang tersisa. Apakah ini adalah tingkah-laku seorang utusan Tuhan?

Sang narator berkata,Sesuai dengan praktek pada waktu itu, semua tawanan dijadikan budak dan dibagi-bagikan di antara prajurit-prajurit Muslim yang menang. Ketika kita membaca sejarah Islam, kita melihat ini ADALAH praktek umum yang dilakukan oleh orang Muslim, di sepanjang sejarah Islam yang bergelimangan darah. Namun pertanyaannya tetaplah: Beginikah tingkah-laku seorang utusan Tuhan?

Muhammad menyebut dirinya sendiri sebagai rahmat Allah bagi seluruh dunia (lihat: 21:107). Apakah perbedaan antara “rahmat Allah” ini dengan seorang anggota geng yang kejam dan suka merampok?

Jika ini didalilkan sebagai praktek yang biasa dilakukan orang Arab, tidak dapatkah seorang utusan Tuhan mengubah dan memperbaharuinya? Mengapa sampai terlibat dalam praktek biadab yang sama seperti itu? Bukankah dikatakan bahwa ia datang justru untuk memberi teladan untuk diikuti semua orang? Mengapa orang dengan klaim seperti itu bersikap sangat brutal? Apakah ia datang untuk memberi teladan untuk diikuti atau mengikuti perbuatan-perbuatan jahat orang-orang pada jamannya?

Para apologis mengatakan bahwa Muhammad “tersentuh”. Sudah tentu ia tidak tersentuh oleh belas kasihan, melainkan oleh nafsu. Orang ini sama sekali tidak punya hati. Yang tersentuh adalah kelaminnya.

Muhammad tidak membebaskan Juwairiyah karena ia mengasihani wanita itu. Ia adalah orang yang tidak punya rasa belas kasihan. Ia menginginkan Juwairiyah untuk dirinya sendiri.

Tidak seperti yang dipikirkan banyak orang, niat-niat Muhammad bukanlah untuk mentobatkan orang kepada keluhuran agamanya. Tujuan riilnya adalah mendapatkan kekuasaan, kekayaan dan dominasi. Agama hanyalah kulit luarnya. Ia menimbang tiap kasus dan memperhitungkan keuntungan finansialnya. Maka dalam banyak kasus, lebih baik bagi Muhammad jikalau orang-orang tidak jadi memeluk Islam, melainkan bisa dibunuh saja agar harta miliknya bisa dijarah. Sebab jikalau orang-orang diberi pilihan, yaitu tatkala mereka takut dikalahkan, maka mereka pun akan menerima Islam, lalu Muhammad tidak lagi bisa merampas kekayaan mereka. Muhammad tidak merasa perlu menunjukkan kebijakan untuk memperingatkan bani Mustaliq dan banyak kelompok lainnya yang telah ia serang, musnahkan, dan yang harta benda mereka telah terjarah oleh Muhammad.

Jika orang diberi pilihan, yaitu apabila mereka takut dikalahkan, maka mereka pun menerima Islam. Dengan itu, Muhammad tidak lagi bisa merampas kekayaan mereka. Muhammad tidak cukup bijak untuk memperingatkan bani Mustaliq dan banyak kelompok lainnya yang ia telah serang, taklukkan dan yang harta benda mereka dijarah oleh Muhammad.

Muslim, periwayat lainnya mengenai Muhammad meriwayatkan:

Ibn ‘Aun melaporkan: Aku menulis kepada Nafi’ menanyakan darinya apakah perlu memperpanjang (pada orang-orang kafir) sebuah undangan untuk menerima (Islam) sebelum memerangi mereka. Ia menulis (sebagai jawaban) padaku bahwa hal itu penting di awal berdirinya Islam. Rasul Allah (semoga keselamatan melimpahinya) menyerang Banu Mustaliq saat mereka tidak siap dan ketika ternak mereka sedang minum air. Ia membunuh mereka yang berperang dan menawan yang lainnya. Pada hari itu juga, ia menawan Juwairiya bint al-Harith. Nafi’ mengatakan bahwa tradisi ini dikaitkan dengannya oleh Abdullah b. Umar yang (ia sendiri) adalah salah seorang dari pasukan yang melakukan penyerangan.” Book 019, Number 4292:

Para tentara Muslim menyimpan sunnah ini (contoh-contoh yang diberikan oleh Muhammad) setelah kematiannya.

Ketika sebuah pasukan Muslim menginvasi sebuah kota, mereka tidak mengijinkan orang-orang di kota itu untuk berpaling pada Islam selama tiga hari. Selama tiga hari itu, mereka membunuh sebanyak mungkin orang yang bisa mereka bunuh, menjarah harta benda mereka dan memperkosa anak-anak perempuan dan isteri-isteri mereka. Hanya setelah penduduk kota itu sudah semakin berkurang dan perempuan-perempuan muda dan anak-anak yang bisa dijual sebagai budak sudah ditangkap, barulah dijalankan kampanye brutal Islamisasi dengan mandatnya agar semua orang memeluk Islam atau mati. Orang-orang Yahudi dan Kristen diberikan perlindungan untuk hidup, yaitu supaya mereka masuk ke dalam dhimmitude. Dhimmi artinya orang yang dilindungi. Tetapi kaum dhimmi harus membayar atas perlindungan yang mereka dapatkan dari orang-orang Muslim. Pembayaran ini dikenal sebagai jizyah, dan menjadi pajak sumber penghidupan untuk orang-orang Muslim, yang dengannya mereka bisa hidup sebagai parasit dari pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh orang-orang dhimmi.

 

Diriwayatkan oleh Juwairiya bin Qudama At-Tamimi:

Kami berkata kepada ‘Umar bin Al-Khattab, Oh Pemimpin orang-orang beriman! Nasehatilah kami.” Ia berkata,”Saya menasehatimu untuk menggenapi Ketentuan Allah (yang diadakan dengan orang-orang Dhimmi) sebagai keputusan dari Rasulmu dan sebagai sumber penghidupan dimana engkau bergantung (misalnya pajak dari kaum Dhimmi)” Volume 4, Book 53, Number 388:

Aisha yang mendampingi rasul dalam ekspedisi ini, menceritakan bagaimana Juwairiyah ditangkap.

Ketika rasul – semoga keselamatan melimpahinya – mendistribusikan para tahanan dari Banu Almustaliq, ia (Barrah) jatuh ke tangan Thabit ibn Qyas.Ia telah menikah dengan sepupunya, yang terbunuh dalam peperangan itu. Kemudian ia memberikan pada Thabit sebuah keterangan, persetujuan untuk membayarnya sebanyak sembilan ‘okes’ emas untuk kebebasannya. Ia adalah seorang wanita yang sangat cantik. Ia membuat setiap orang yang melihatnya menjadi terpana. Ia kemudian datang kepada rasul – semoga keselamatan melimpahinya – untuk memintanya menolong dalam masalah ini. Segera setelah aku (Aisha) melihatnya dari pintu ruanganku, aku menjadi tidak suka padanya, sebab aku tahu bahwa Ia (rasul Allah) akan melihatnya seperti aku melihatnya. Ia masuk ke dalam dan memberitahukan padanya siapa dia, bahwa dia adalah anak perempuan al-Harith ibn Dhirar, ketua dari sukunya. Ia berkata: “engkau bisa melihat keadaanku saat ini. Sekarang aku telah menjadi milik Thabit, dan sudah memberikan padanya sebuah surat untuk tebusan, dan aku datang untuk meminta pertolonganmu atas masalah ini.’ Ia berkata: “Apakah engkau ingin sesuatu yang lebih baik dari itu? Aku akan membayar hutangmu, dan menikahimu.’ Ia katakan: ‘Oh Kemudian Utusan Allah: Jadilah demikian.’ Jawabnya.” http://66.34.76.88/alsalafiyat/juwairiyah.htm

 

Kisah ini mengakhiri setiap argumen mengenai (about) motivasi Muhammad yang sesungguhnya sehingga ia mengambil sedemikian banyak wanita. Ia melakukan itu bukan untuk menolong para janda (seperti yang sering dislogankan), tetapi hanya karena mereka itu muda dan cantik. (Bagaimana menolong janda, bila ia sendiri yang menyebabkan orang jadi janda?) Muhammad membunuh suami Juwairiyah, yang juga adalah sepupunya. Tertawan oleh kecantikannya, ia menawarkan diri untuk membebaskan Juwairiyah, tetapi hanya dengan satu kondisi supaya ia bisa menikahinya. Setelah wanita ini datang pada Muhammad untuk memohonkan pertolongan, orang yang memproklamirkan dirinya sebagai “rahmat Allah atas manusia” ini memberinya sebuah pilihan yang sebenarnya paling tidak ia inginkan, dimana harga yang harus ia bayar adalah justru menjadi isteri dari pembunuh suaminya sendiri! Pilihan lain apa yang bisa ia dapatkan? (atas nama “tersentuhnya kasihan rasul Allah” kepada seorang janda)?

Para apologet Islam berkeras menyatakan bahwa kebanyakan isteri-isteri Muhammad adalah para janda. Mereka ingin membuat kita percaya bahwa Muhammad menikahi mereka karena belas kasihan. Kebenarannya adalah bahwa mereka itu adalah wanita-wanita yang muda dan cantik. Jika mereka menjadi janda, itu karena Muhammad telah membunuh suami-suami mereka. Juwairiyah baru berusia 20 tahun, sementara Muhammad sendiri 58 tahun.

Selebihnya dari kisah Juwairiyah merupakan campuran separuh kebenaran dan hal yang dilebih-lebihkan, dan yang telah menodai kebanyakan hadis.

Dikatakan bahwa ketika Rasul – semoga keselamatan melimpahinya – meninggalkan tempat penyerangan bersama dengan Juwairiyah dan tiba di Dhuljaysh, ia mempercayakan Juwairiyah pada salah seorang Ansar dan terus melanjutkan perjalanan menuju Medinah. Ayahnya, al-Harith, yang mengetahui bahwa ia sudah ditawan, kembali ke Medinah dengan membawa tebusan untuk anak perempuannya itu.

Ketika ia sampai di al-Aqia, ia melihat unta-unta yang ia bawa sebagai tebusan dan sangat mengidolakan dua dari unta-unta itu, karena itu ia menyembunyikan kedua unta itu di salah satu jalan menuju al-Aqia.Maka ia pun datang menemui Rasul – semoga keselamatan melimpahinya – membawa unta-unta yang ada di belakangnya dan berkata padanya: “Anak perempuanku terlalu berharga untuk diambil sebagai seorang tawanan. Bebaskanlah dia dengan tebusan ini.” Rasul – semoga keselamatan melimpahinya – menjawab: ”Tidakkah lebih baik jika kita membiarkannya memilih untuk dirinya sendiri?” Itu cukup adil,” kata al-Harith. Ia pun sampai pada puterinya itu dan berkata: “Orang ini membiarkan engkau memilih agar tidak mempermalukan kita!” “Aku memilih Utusan Allah,” ia menjawab dengan kalem. “Alangkah memalukannya!” demikianlah seruannya (al-Harith).

Rasul – semoga keselamatan melimpahinya – kemudian berkata “Dimana kedua unta yang engkau sembunyikan di jalan menuju al-Aqia?” al-Harith menjawab: ”Sesungguhnya aku bersaksi, tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa engkau Muhammad adalah utusan Allah! Sebab tak ada seorang pun yang bisa mengetahui hal ini kecuali Allah.”

Ibn-i-S’ad dalam ‘Tabaqat’nya menerangkan bahwa ayah Juwairiyah membayar tebusannya, dan setelah ia menjadi seorang yang merdeka, Rasul Kudus pun menikahinya. Sebagai hasil dari pernikahan ini, tawanan perang yang berjumlah sekitar 600 orang dibebaskan oleh orang-orang Muslim sebab ia tidak menyukai jika ada anggota keluarga yang dinikahi oleh Rasul, dijadikan budak.”

Sulit untuk menentukan bagian mana dari kisah ini yang benar. Tetapi tidak sulit untuk melihat kontradiksi yang ada dalam alur cerita utama (termasuk ketika mana Juwairiyah diperhadapkan dengan pilihan kepada orang tuanya atau si pembunuh suaminya yang sekarang menikahinya). Ya, kita membaca bagaimana Muhammad telah membayar tebusan kepada Thabit yang menangkap Juwairiyah dan kemudian menikahinya. Kemudian kita membaca lagi bahwa Harith, ayah Juwairiyah telah membayar tebusan itu.

Klaim bahwa Muhammad memiliki kemampuan psikis tertentu, sebagai contoh bagaimana ia mengetahui informasi akan keberadaan unta-unta tersebut, bisa dengan mudah kita simpulkan sebagai sebuah klaim yang palsu. Dalam banyak kejadian, Muhammad mendemonstrasikan secara tepat hal yang bertentangan, dan membuktikan bahwa ia tidak memiliki kemampuan psikis apapun untuk mengetahui apa yang terjadi sebelumnya, karena kegagalannya menyingkapkan atau memperoleh informasi melalui rahmat Allah yang begitu ia inginkan. Sebagai contoh, ketika ia menyerang Khaibar, ia menyiksa Kinana, bendahara kota itu, hingga Kinana tewas, karena Muhammad ingin mendapatkan informasi dimana harta kekayaan kota itu disimpan.

Perhatikan bahwa dalam contoh seperti ini, orang-orang Arab memperlihatkan standard moral yang lebih tinggi dibandingkan Nabi mereka. Mereka membebaskan saudara-saudara Juwairiyah setelah mereka mengetahui bahwa Muhammad telah menikahinya. Muhammad sama sekali tidak mempunyai kesusilaan umum, yaitu untuk memperlihatkan bahwa ia adalah seorang pemimpin moral yang merefleksikan kebajikan.

Orang-orang Muslim mengklaim bahwa Juwairiyah menjadi orang beriman yang sungguh-sungguh dan menghabiskan hari-harinya menjalankan sembahyang. Sumber klaim ini bisa ditemukan dalam buku Usud-ul-Ghaba. Sang penulis mencatat, biasanya ketika Nabi datang pada Juwairiyah maka ia menemukannya sedang sembahyang, kemudian saat ia kembali pada waktu yang lain pun, ia masih saja menemukan Juwairiyah tengah sembahyang. Suatu hari ia berkata kepadanya: ”Bolehkah aku memberitahukan padamu beberapa kata, jika engkau mengucapkannya maka itu akan lebih berat timbangannya daripada apa yang telah engkau lakukan? Engkau berkata: ‘subhaana allahe ‘adada khalqihi, subhana allahe ridhaa nafsehe, subhana allahe zinata ‘arshehe, subhana allahe zinata ‘arshehe,subhana allah midadda kalimaatihi.’ (Terpujilah Allah sebanyak jumlah ciptaannya, dan sebanyak yang bisa menyenangkannya, dan sebanyak berat tahtanya, dan sebanyak tinta dari perkataannya).

 

Orang akan bertanya-tanya, mengapa orang Muslim menyediakan waktu lima kali sehari untuk sembahyang dan menyia-nyiakan sedemikian banyaknya waktu secara tidak produktif ketika mereka hanya memiliki sebuah formula sederhana dan baku untuk memuji Allah?

Mari kita melihat kisah ini dari sebuah perspektif yang lebih realistis. Letakkan diri anda dalam sepatu seorang wanita muda yang telah menjadi milik seorang pembunuh suaminya sendiri! Jika anda adalah seorang wanita yang berada dalam situasi Juwairiyah, bagaimana perasaanmu mengenai sang pembunuh suamimu dan banyak dari anggota keluargamu serta atau orang-orang yang engkau kasihi?

Anggaplah bahwa engkau tidak punya tempat lain untuk pergi. Juwairiyah tak punya pilihan lain kecuali menerima tawaran Muhammad untuk menikahinya. Sekarang, apa yang seorang wanita akan perbuat ketika pria ini datang mengunjunginya untuk melakukan hubungan seks? Boleh jadi ia memikirkan sebuah cara yang paling mungkin untuk menghindari pria ini. Itulah yang dilakukan oleh Juwairiyah. Setiap kali ia mendengar langkah kaki Muhammad, ia berpura-pura sedang sembahyang, dengan harapan bahwa Muhammad akan pergi ke isteri-isterinya yang lain demi memuaskan nafsunya yang keji itu. Namun, Muhammad adalah seorang bajingan yang licik. Ia segera menemukan sebuah kalimat pendek dan memberitahukan Juwairiyah bahwa ini “akan menjadi lebih berat timbangannya” daripada melaksanakan sholat panjang sepanjang hari, menutup cela bagi Juwairiyah untuk menghindari dirinya.

Tak ada seorang pun yang bermartabat, bisa mempercayai kriminal tercela ini bisa menjadi seorang rasulnya Tuhan. Mereka yang menyebut dirinya sebagai orang-orang Muslim adalah mereka yang, entah bersikap masa bodoh terhadap kebenaran atau mereka sendiri pun adalah juga para kriminal yang tak tahu malu. Jika hingga saat ini anda menyebut dirimu sebagai seorang Muslim karena kebodohanmu, maka anda sama sekali tidak termaafkan. Sekarang sepenuhnya terserah pada anda, bagaimana kalian akan membuktikan kemanusiaanmu, dengan menjijiki Muhammad dan buku terornya yang najis itu, serta meninggalkan Islam.

Baca buku saya:  Understanding Muhammad dan semua pertanyaanmu mengenai Islam akan dijawab.