Menjarah: Sumber Ekonomi Islam

Margareth Thatcher berkata, “Masalah dengan sosialisme adalah, pada akhirnya anda kehabisan uang orang lain”. Masalah dengan ekonomi Islam tidak jauh berbeda. Jika tidak ada lagi orang untuk dijarah propertinya, orang Muslim akan mulai saling menghabisi dengan saling melabel kafir, bidat dan tidak islami, untuk membenarkan penyerangan dan penjarahan terhadap sesamanya Muslim.

 islam.jahanam

 4 Agustus 2014

Bapak Sina yang terhormat,  

Salah seorang teman saya yang saya kenal melalui dewan diskusi Polandia (ia beragama Katolik Roma) mengklaim bahwa Islam sangat tidak mementingkan kerja dan lebih menyukai menjarah sebagai sumber pemasukan untuk mendapatkan kesejahteraan. Ia mengklaim perdagangan hanyalah satu-satunya sumber pemasukan yang normal yang dapat diterima Islam. Oleh karena itu konklusinya adalah budaya-budaya yang berdasarkan Islam sesungguhnya tidak mampu menciptakan perekonomian yang membawa kemakmuran.

Saya memutuskan untuk bertanya pada anda setelah membaca kicauan (di twitter) oleh seorang penggemar ISIS yang memposting soal Suriah dan Irak (ia menyebut dirinya bernama “Shami Witness”). Kicauan itu berbunyi “Sebuah negara Ghazi klasik harus senantiasa berekspansi”. Apakah itu merupakan konfirmasi atas penolakan Islam terhadap kerja?

 

[Jawaban Ali Sina]:

Menurut saya, teman Katolik anda dan orang Muslim yang mendukung ISIS itu benar. Muhammad tidak memedulikan kerja produktif. Sebagai contoh, berkenaan dengan perlengkapan/peralatan pertanian ia berkata, “Tidak ada rumah yang akan dimasuki peralatan-peralatan ini kecuali Allah akan membuat penghinaan untuk masuk ke dalamnya” [Bukhari: 3:39:514]

Alasan mengapa Muhammad sangat melecehkan pertanian adalah karena ia ingin para pengikutnya menjadi pejuang. Pertanian membutuhkan komitmen kepada lahan. Sebagai seorang petani anda tidak dapat mengabaikan lahan dan pergi berperang yang seringkali memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Ia berkata, “Ketika engkau memasuki transaksi inah, memegang ekor lembu-lembu, dipuaskan dengan pertanian, dan tidak melakukan jihad. Allah akan membuat engkau dipermalukan, dan tidak akan menariknya hingga engkau kembali kepada agama asalmu” [Sunan Abu Dawud 23: 3455]

Walaupun pertanian lebih memerlukan jerih lelah, semua industri memerlukan komitmen hingga ke tingkat tertentu. Khabbib, seorang sahabat Muhammad meriwayatkan, “Aku, pada masa sebelum Islam, biasa bekerja sebagai pandai besi” [Sahih Muslim: 39: 6716]. Jelaslah, setelah bergabung dengan Muhammad ia meninggalkan pekerjaannya dan mencari nafkah melalui perampokan.

Diriwayatkan suatu hari Muhammad mengisahkan kisah berikut ini, “Salah seorang penghuni firdaus akan meminta agar Allah mengijinkannya bercocok tanam. Allah bertanya padanya, ‘Bukankah engkau tinggal di dalam kesenangan yang engkau sukai’. Ia berkata, ‘Ya, tetapi aku ingin bercocok tanam’”. Lalu Muhammad meneruskan kisahnya dengan mengatakan orang itu diijinkan menabur benih dan tanaman akan tumbuh setinggi gunung dalam sekejap mata dengan buah-buah yang siap dipetik dan kemudian Allah akan berkata kepadanya, “Wahai anak Adam! Kumpulkanlah hasil ladang; tidak ada yang memuaskanmu” [Sahih Bukhari 3:39: 538]

Pengajaran moral kisah ini adalah pertanian hanya untuk orang-orang yang serakah. Seorang Muslim sejati harus puas dengan apa yang didapatkannya dari hasil jarahan, yang sudah tentu jauh lebih menguntungkan dan aman. Dengan menyerang desa-desa dan kota-kota, para jihadis dapat membunuh orang yang tidak berjaga-jaga dan tidak bersenjata lalu menjarah harta mereka.

Muhammad benar-benar tidak tertarik kepada produksi dan industri. Kemakmuran, menurutnya, harus diperoleh melalui penjarahan. Salah seorang sahabatnya meriwayatkan, “Rasul Allah melarang kami melakukan sesuatu yang merupakan sumber pertolongan bagi kami. Ia memanggilku dan bertanya, ‘Apa yang engkau lakukan dengan ladangmu?’ Aku menjawab, ‘Kami menyerahkan ladang kami [untuk membayar sewa], atau menyewakannya untuk mendapatkan beberapa wasq (karung) gandum dan kurma’. Rasul Allah berkata, ‘Jangan berbuat demikian, tetapi tanamilah (lahan itu) sendiri atau biarlah lahan itu dikelola orang lain dengan gratis, atau biarkanlah lahan itu tidak dikelola’. Ia berkata, ‘Kami  mendengarkannya dan taat’” [Sahih Bukhari 3: 39: 532]. Hadith lainnya mencatat hal yang sama. “Barangsiapa mempunyai lahan, ia harus mengelolanya sendiri atau memberikannya kepada saudara Muslimnya dengan gratis; jika tidak demikian ia harus membiarkan lahan itu tidak ditanami” [Sahih Bukhari 3: 39: 533].

Diriwayatkan bahwa Ibn Umar mempunyai beberapa lahan yang disewakannya, dan ketika ia mendengar hadith ini, ia berhenti menyewakannya [Sahih Bukhari 3: 39: 536]

Walau tidak mengindahkan pertanian dan industri, orang Muslim diperkaya, namun semua itu didapat melalui penjarahan dan mencuri properti orang lain. Dikisahkan Umar berkata, “Namun mengenai masa depan generasi Muslim, aku akan membagi-bagikan tanah desa-desa yang telah aku taklukkan kepada para pejuang seperti nabi membagi-bagikan Khaibar” [Sahih Bukhari 3: 39: 527].

Namun demikian, sama seperti hal-hal lainnya yang dikatakan dan dilakukan Muhammad, ia tidak konsisten. Ketika ia menyerang dan menaklukkan Khaibar, ia menyita semua lahan tetapi mengijinkan para penyintas untuk mengelolanya dan membagi separuh hasil lahan itu dengannya. Putra Umar meriwayatkan, “Rasul Allah berniat untuk mengusir orang Yahudi tetapi mereka memintanya agar membiarkan mereka tinggal disana dengan syarat mereka bekerja dan mendapatkan separuh hasil panen. Rasul Allah berkata kepada mereka, “Kami akan mengijinkan kalian tinggal dengan syarat tersebut, selama kami menghendakinya”. Maka mereka (orang Yahudi) tetap tinggal disana hingga ‘Umar memaksa mereka pergi ke arah Taima’ dan Ariha’”. [Sahih Bukhari 3: 39: 531]

Alasan ketidaksepakatan ini kemungkinan karena fakta masyarakat Khaibar yang telah ditaklukkan adalah orang Yahudi. Seara teknis, mereka tidak menyewakan lahan mereka yang telah disita, tetapi bekerja secara cuma-cuma untuk orang Muslim.

Ibn Umar mengatakan, nabi menutup sebuah kontrak dengan orang Khaibar untuk mengelola lahan dengan syarat separuh dari hasil buah-buahan atau vegetasi akan menjadi bagian mereka. Nabi selalu memberi para istrinya masing-masing 100 wasq, itu 80 wasq kurma dan 20 wasq gandum. (Ketika Umar menjadi Khalif) ia memberi para istri nabi pilihan memiliki lahan dan air sebagai bagian mereka, atau melanjutkan praktik sebelumnya. Beberapa dari mereka memilih tanah dan yang lainnya memilih wasq. Aisha memilih tanah. [Bukhari 3:39: 521] 

Tidak satupun hukum Islam mempunyai tanggal kadaluarsa. Fakta kesejahteraan orang Muslim diperoleh dari jarahan diratifikasi oleh orang Muslim kontemporer.

Situs Islam yaitu: Islamicawakening.com menulis,

“Ibnu Umar (ra) meriwayatkan bahwa Nabi (saw) berkata, ‘Hidupku berada di bawah bayang-bayang tombakku, dan orang yang tidak menaati perintah-perintahku akan dipermalukan’” [Sahih Bukhari, h. 408, vol. 1]

Keunggulan tombak telah disebutkan dalam hadith ini dan kita mendapat informasi bahwa kehidupan dan pemasukan nabi (saw) terletak pada tombak (jihad). Inilah sebabnya mengapa para muhadith menyatakan bahwa pendapatan terbaik adalah dari rampasan perang dan hal itu sudah jelas dibuktikan melalui hadith ini, yaitu rampasan perang diperbolehkan bagi Ummah.

Dari semua senjata perang, hanya tombak yang disebutkan demikian: “Penghidupan telah diletakkan di bawah tombak” karena secara umum, bendera dikibarkan tinggi pada sebuah pedang, maka pedang disebutkan untuk mengindikasikan bendera, dan penghidupan berarti rampasan perang. Allah telah menentukan kesejahteraan yang berasal dari jarahan perang sebagai harta yang bersih. Demikianlah Allah berkata:

“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur”  (Quran Sura Anfal: 26)

Tafsiran untuk kata “baik-baik” (tayyab) dalam ayat di atas dijelaskan sebagai rampasan perang.

Jabir Ibn Abdullah (ra) meriwayatkan nabi (saw) berkata, “Kepadaku telah diberikan lima hal yang tidak diberikan kepada siapapun sebelum aku:

1. Allah membuatku berkemenangan melalui kekaguman (dengan menakut-nakuti musuhku), dengan jarak sejauh satu bulan perjalanan.

2. Bumi ini telah dijadikan untukku (dan para pengikutku) sebagai tempat untuk menegakkan sholat dan untuk memurnikan (melaksanakan tayyamum), oleh karena itu siapapun pengikutku dapat menaikkan sholat dimanapun ia berada pada waktu sholat

3. Rampasan perang telah dijadikan halal bagiku, namun haram bagi siapapun sebelum aku.

4. Aku telah diberikan hak untuk bersyafaat.

5. Setiap nabi umumnya diutus kepada bangsanya, namun aku diutus kepada semua umat manusia. (Sahih Bukhari, h.51, English summarised edition; Muslim; Bayhaqi, h.4, vol.9)

http://islamicawakening.com/viewarticle.php?articleID=603&pageID=203&pageID=214

islam-jahanam

Islam bahkan mengijinkan Muslim menjadikan kaum wanita dari bangsa yang telah ditaklukkan untuk dijadikan budak-budak seks atau dijadikan isteri setelah sebelumnya mereka dipaksa menjadi mualaf

Orang Muslim ini, yang berkicau di Twitter “Negara Ghazi klasik harus senantiasa melakukan ekspansi”, adalah benar. Ekonomi Islam mengalami peningkatan melalui penjarahan. Maka, sebuah negara Islam harus terus melakukan ekspansi dan menjarah. Seperti mengendarai sepeda; anda harus terus mengayuh jika tidak maka anda akan jatuh.

Margareth Thatcher berkata, “Masalah dengan sosialisme adalah, pada akhirnya anda kehabisan uang orang lain”. Masalah dengan ekonomi Islam tidak jauh berbeda. Jika tidak ada lagi orang untuk dijarah propertinya, orang Muslim akan mulai saling menghabisi dengan saling melabel kafir, bidat dan tidak islami, untuk membenarkan penyerangan dan penjarahan terhadap sesamanya Muslim.

Sejak orang Muslim diusir keluar dari Spanyol sekitar 450 tahun yang lalu, sumber pemasukan mereka juga mengering dan sejak saat itu mereka menjadi miskin.

Ketika Mark Twain mengunjungi Kekaisaran Ottoman, ia terkejut melihat absennya kemajuan teknologi dan tingginya tingkat kebodohan secara umum. Ia menulis, “Bajak yang digunakan orang-orang ini hanyalah sebuah tongkat tajam, seperti yang digunakan Abraham untuk membajak, dan mereka masih menapis gandum seperti [cara orang pada masa] Abraham – mereka menumpuknya di atap rumah, lalu menguraikannya dengan sekop ke udara hingga angin meniup semua jerami dan sekam. Mereka tidak pernah menciptakan apapun, tidak pernah belajar apapun”.

Twain juga sangat tidak terkesan dengan konsep moralitas orang Muslim. Ia berkata, “Ada banyak sekali mesjid, ada banyak sekali gereja, ada banyak sekali pemakaman, tetapi moral dan wiski jarang/sedikit. Quran tidak mengijinkan pengikut Muhammad untuk minum [alkohol]. Insting alamiah mereka tidak mengijinkan mereka untuk menjadi orang bermoral. Mereka mengatakan Sultan mempunyai 800 istri. Jumlah ini dapat disebut bigamy. Ini membuat pipi kita terbakar oleh rasa malu ketika melihat hal seperti ini diperbolehkan di Turki”.

Orang Muslim memandang diri mereka sebagai orang miskin, sementara semua orang lain mempunyai hidup yang lebih baik. Dan karena mereka berpikir Allah telah menghalalkan mereka untuk merampas dan menjarah, mereka mengklaim kekayaan anda adalah milik mereka.

Dan sudah tentu konsep etika dan moralitas adalah sesuatu yang asing bagi orang Muslim, seperti unta bagi kutub utara. Bagi seorang Muslim, benar dan salah tidak ditentukan oleh standar Aturan Emas, tetapi oleh apa yang diperbolehkan dan dilarang Muhammad. Orang Muslim tidak akan menggunakan nurani mereka untuk menilai moralitas islami. Mereka tidak memilikinya. Untuk memiliki nurani, orang harus dapat berpikir secara independen. Orang Muslim menyombongkan diri mereka dalam mendengarkan dan menaati, bukan dalam berpikir, bernalar, apalagi mempertanyakan [ini dilarang oleh Allah].