Karma dan Akhirat

Apapun yang kita lakukan terhadap orang lain sesungguhnya kita lakukan terhadap diri kita sendiri. Kita baru akan menyadarinya jika kita telah meninggalkan dunia ini. Disini orang dapat hidup tanpa nurani. Tetapi tidak di akhirat!

Oleh: Ali Sina (11 September 2013)

 

Sejak saya mempublikasikan pandangan-pandangan saya mengenai akhirat saya telah menerima beberapa pertanyaan yang akan saya jawab dalam artikel ini. Saya berharap ini akan menjadi artikel yang terakhir mengenai topik ini karena saya ingin kembali membahas topik mengenai Islam.

Orang Muslim juga mengatakan bahwa akhirat itu ada. Bukankah kita tidak setuju dengan pernyataan mereka? Bagi kita pernyataan itu tidak berdasar.

Ada cukup banyak bukti untuk mendukung adanya akhirat. Saya telah menunjukkan beberapa kasus pengalaman menjelang ajal dalam Why I believe in God and the afterlife now. Saya akan terus menambahkan daftarnya saat saya menemukannya lagi. Sains berdasarkan pada bukti.  Jika kita menyangkali bukti maka kita menyangkali sains.

Fakta bahwa Muhammad juga mengatakan bahwa ada kehidupan sesudah kematian tidak menjadikannya orang benar. Saat ini semua orang percaya pada hidup sesudah kematian. Ia menggunakan keyakinan ini sebagai sarana untuk menipu dan memanipulasi banyak orang.

Mengapa tidak semua orang yang mempunyai pengalaman menjelang ajal melaporkan telah melihat “dunia lain”?

Menurut sebuah studi terhadap ratusan kasus pengalaman menjelang ajal, satu dari 5 orang telah mengalaminya. Mengapa yang lainnya tidak mengalaminya masih menjadi teka-teki bagi para peneliti. Namun demikian, kita tidak berasumsi bahwa ada orang-orang yang mempunyai roh/jiwa dan yang lainnya tidak.

Anda tidak menyebut soal karma. Tanpa karma tidak ada keadilan.

Rasionalitas di balik karma adalah bahwa jika anda melakukan kejahatan dalam hidup ini, dalam reinkarnasi anda berikutnya anda akan berkasta lebih rendah atau bahkan menjadi binatang dan akan dihukum menjalani hidup yang menyedihkan hingga anda membayar kewajiban-kewajiban anda kepada alam semesta. Masalahnya, keyakinan ini bertentangan dengan kasih Tuhan yang tidak bersyarat, dan oleh karena itu juga bertentangan dengan kesempurnaan-Nya. Kasih Tuhan tidak bersyarat, seperti halnya sinar matahari yang menyinari baik orang yang jahat maupun orang yang baik dengan tidak membeda-bedakan.

Apakah anda mengatakan bahwa pembunuh massal seperti Hitler dan Stalin sama dikasihi Tuhan seperti Ibu Teresa?

Ya. Tuhan tidak membeda-bedakan. Ia mengasihi semua orang dengan cara yang sama. Ia bahkan mengasihi binatang-binatang dan pohon-pohon seperti halnya Ia mengasihi manusia. Kasih adalah natur-Nya. Ia tidak dapat melakukan hal yang lain selain mengasihi.

TETAPI, disini ada “tetapi” yang besar. Walaupun tidak ada penghakiman oleh Tuhan dan oleh karena itu tidak ada penghukuman, namun setiap pikiran, perkataan dan perbuatan mempunyai konsekuensinya. Jika anda memasukkan tangan anda ke dalam api, pasti akan terbakar. Tidak seorangpun yang menghukum anda. Anda sendirilah yang menanggung akibatnya karena telah melanggar hukum alam. Demikian pula, jika kita melanggar hukum rohani maka kita akan menanggung konsekuensi dari tindakan kita dan itu terjadi segera setelah pelanggaran itu terjadi, sama halnya jika kita melanggar hukum fisik. Satu-satunya perbedaan adalah kita tidak menyadarinya hingga kita meninggalkan dunia ini.

Orang dalam video ini menjelaskan bagaimana kita membayar tindakan-tindakan kita. Bagaimana orang memposisikan diri?

Individualitas kita adalah sebuah ilusi. Kita semua adalah satu esensi. Lihatlah jari-jari anda. Jika anda menutupi telapak tangan anda, maka jari-jari anda seakan-akan terpisah dan saling berjauhan satu sama lain. Tetapi jari-jari anda berasal dari satu telapak tangan. Jika satu bagian dari tubuh kita disakiti, seluruh bagian tubuh kita akan merasa sakit. Kita terdiri dari tubuh dan jiwa. Jiwa kita adalah kepingan-kepingan Tuhan. Ada juga teori yang mengatakan bahwa seluruh alam semesta terbuat dari satu elektron. Partikel-partikel dapat berada dalam dua atau di banyak tempat berbeda pada saat yang bersamaan. Jika demikian kasusnya, maka anda dan saya serta segala sesuatu dalam alam semesta ini terbuat dari partikel yang sama. Oleh karena itu, kita berasal dari satu sumber yang sama, baik secara spiritual maupun secara fisik. Kita tidak dapat melihat kemanunggalan tersebut dalam eksistensi kita sekarang ini. Jika kita telah melewati “pintu gerbang” dan memasuki “dunia yang berikutnya” maka kita akan dapat melihat bahwa segala sesuatu yang kita lakukan kepada orang lain sesungguhnya kita lakukan untuk diri kita sendiri. Setiap kepedihan dan setiap sukacita yang anda berikan kepada orang lain akan kembali kepada anda 100%, tidak kurang dan tidak lebih. Namun demikian, dunia yang berikutnya/akhirat tidak mengenal waktu. Kekekalan dan satu kejadian adalah sama. Oleh karena itu, walaupun kepedihan yang anda timbulkan terhadap orang lain dalam dunia ini hanya akan berlangsung dalam waktu yang singkat, anda akan merasakan kepedihan itu sepanjang masa.

Karma juga berdasarkan pada prinsip sebab dan akibat.

Karma adalah suatu bentuk penghakiman dan penghukuman. Jika kita dikirim kembali ke dunia ini untuk menderita karena dosa-dosa  yang telah kita perbuat di masa lalu, maka ini adalah penghukuman. Dampak dari tindakan kita akan langsung dirasakan, tetapi kita baru menyadarinya saat berada di dunia yang berikutnya ketika tabir telah disingkapkan.

Masalah lainnya mengenai karma adalah ketidakadilannya dalam menghukum seseorang; karma tidak mengatakan kepada orang itu ia dihukum oleh karena kejahatannya yang mana. Jika dunia ini diibaratkan sebuah sekolah, seperti yang diyakini oleh beberapa agama, kita harus diberitahu pelajaran apa saja yang harus kita pelajari. Bagaimanakah Tuhan yang penuh kasih dapat menghukum orang tanpa terlebih dahulu memberitahukan pada mereka alasannya dan bagaimana kita dapat mempelajari sesuatu jika kita tidak diberitahu pelajaran-pelajaran apa yang harus kita pelajari?

Karma adalah doktrin yang salah, dan sama seperti semua doktrin yang salah lainnya, doktrin ini berbahaya. Doktrin ini membuat orang tidak peduli terhadap keluhan orang yang menderita. Doktrin ini mengajarkan bahwa mereka yang kurang beruntung di antara kita pantas menerima kemalangan mereka itu.

Keyakinan-keyakinan yang salah selalu berbahaya. Mungkin inilah parameter yang terbaik untuk mengetahui apakah sebuah doktrin benar atau salah. Jika sebuah doktrin bermanfaat bagi masyarakat, kemungkinan besar doktrin itu benar. Jika berbahaya bagi masyarakat, maka kemungkinan besar salah. Sebagai contoh, sebuah doktrin yang menganjurkan kebencian dan perang, seperti Islam, pastilah doktrin yang salah. Karma menganjurkan pengelompokkan/apartheid dan sistem kasta.

Jika anda percaya bahwa penderitaan anda adalah penetapan ilahi, perjuangan untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik akan menjadi sesuatu yang keliru. Tulah terbesar yang telah menghalangi kemajuan India adalah sistem kasta, yang merupakan akibat dari keyakinan akan karma.

Kita tidak datang ke dalam dunia ini untuk dihukum atau untuk belajar sesuatu, seperti yang dikatakan orang Muslim: untuk diuji. Hati nurani kita bukanlah ciptaan Tuhan; melainkan itu adalah kepingan Tuhan. Nurani kita tidak diciptakan dan tidak bercacat. Ia dapat dikotori, sama seperti air yang dapat dikotori. Namun air yang paling kotor sekalipun dapat dipulihkan hingga menjadi murni kembali. Demikian pula dengan jiwa kita.

Segala sesuatu yang ada pada Tuhan juga ada pada kita. Pikirkanlah mengenai tubuh anda. Anda terbuat dari 100 trilyun sel. Setiap sel mengandung cetak biru diri anda seluruhnya. Keseluruhan diri anda ada dalam tiap sel. Demikian pula, keseluruhan diri Tuhan hadir dalam diri tiap orang. Setiap jiwa adalah gambaran Tuhan.

Kita mengetahui segala sesuatu yang diketahui Tuhan. Pengetahuan itu tersembunyi bagi kita sementara kita masih berada dalam bentuk fisik ini. Dalam dunia ini kita hidup dalam keterasingan. Kita seperti molekul air di tanah kering. Kita tidak mempunyai ingatan akan lautan yang merupakan asal kita. Tetapi ketika kita kembali kepada sumber kita, kita menjadi satu dengan sumber kita dan kita mengingat kembali semua pengetahuan yang dimilikinya. Mengingat Tuhan berarti mengingat kembali dengan semua jiwa dan menemukan kembali kemanunggalan kita dengan alam semesta.

Jadi jika kita tidak datang ke dalam dunia untuk belajar, lalu apa tujuan kita ada dalam dunia ini?

Kita datang ke dunia ini untuk mengalami keberadaan kita. Segala sesuatu dapat dikenal melalui apa yang menjadi lawannya. Untuk mengalami basah, harus ada kering. Untuk mengalami ketinggian, harus ada kerendahan. Untuk mengalami terang, harus ada gelap. Oleh karena itu, Tuhan menciptakan dunia yang majemuk ini agar kita mengalami diri kita. Seratus tahun dalam dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kekekalan, yang merupakan usia kita yang sebenarnya.

Jika kita datang ke dalam dunia ini untuk mengalami hal itu, lalu mengapa ada banyak penderitaan?

Kita sendirilah yang memilih tantangan-tantangan kita, tetapi perinciannya tidak. Alam semesta ini tidak dapat ditebak. Dunia materi adalah subyek dari prinsip ketidakpastian Heisenberg. Kita datang ke dunia ini untuk menghadapi apa yang dilemparkan kesempatan ke hadapan kita dan untuk mengatasi tantangan hidup. Tujuan hidup kita adalah untuk berjuang, mengalahkan kesulitan dan agar mengalami keberhasilan.

Kita tidak datang kemari untuk mengalami kemudahan. Rumah kita ada di surga. Disana kita dapat mencipta dengan pikiran kita dan segala sesuatunya mudah. Kita memutuskan untuk datang kemari karena kita ingin menantang diri kita sendiri.

Ketika kita berbicara mengenai dunia yang berikutnya, maka perumpamaan sangatlah bermanfaat. Yesus banyak menggunakan perumpamaan. Saya akan memberikan sebuah perumpamaan kepada anda. Bayangkanlah anda tinggal di rumah anda yang nyaman. Anda tidur di tempat tidur yang hangat. Ketika anda bangun, anda dapat mandi dengan air hangat. Anda memilih apa yang anda ingin makan dari dalam lemari pendingin anda dan memasaknya di kompor, sementara mesin pembuat kopi anda membuatkan secangkir kopi yang nikmat. Meja makan tempat anda sarapan dipenuhi buah-buahan segar dan semua yang anda butuhkan. Hidup terasa indah dan mudah, tetapi anda menginginkan sesuatu yang lebih menyenangkan. Lalu anda memutuskan untuk pergi berkemah. Anda mendirikan tenda di alam bebas; tidur di tanah; mandi air sungai yang dingin sementara nyamuk menggigiti anda; anda mencari makanan dan berburu, memancing ikan dan memanggangnya di api.

Mengapa membuat hidup anda sesulit itu? Ada orang-orang yang bahkan memutuskan untuk mendaki gunung. Mereka membahayakan hidup mereka dan menyiksa diri dengan suhu dan dataran yang tidak bersahabat. Mengapa ada orang yang mau melakukan hal-hal itu sedangkan tinggal di rumah jauh lebih menyenangkan dan mudah? Apakah mereka gila? Itu karena kita menyukai tantangan. Itulah sebabnya mengapa kita datang ke dalam dunia ini. Sama seperti orang yang memilih untuk pergi memancing, dan yang lainnya lebih menyukai mendaki gunung Everest, kita memilih tingkatan tantangan yang ingin kita hadapi dalam dunia ini. Kehidupan adalah bagaimana mengatasi tantangan hidup.

Ini hanyalah sebuah perumpamaan. Hidup ini bukan piknik atau berkemah. Ada misi bagi hidup kita. Mungkin wajib militer adalah contoh yang lebih baik. Para prajurit mendaftar untuk melayani dalam bidang militer padahal mereka tahu bahwa itu sangat berat. Tetapi pelayanan mereka itu mempunyai tujuan. Hidup kita juga mempunyai tujuan. Pada akhirnya kita akan menemukannya. Saya menemukan tujuan hidup saya 15 tahun yang lalu. Saya tahu tujuan saya datang ke dalam dunia ini dan saya hampir mati karena jatuh pada usia 9 tahun ketika para dokter megatakan pada orang tua saya bahwa saya tidak dapat ditolong lagi; semua itu terjadi agar saya menolong saudara-saudari saya sesama manusia untuk mengetahui kebenaran mengenai Islam. Tetapi saya tidak menyadari hal ini hingga 15 tahun yang lalu. Bahkan kemudian saya tidak menyadari bahwa menghapuskan Islam adalah tujuan saya datang ke dalam dunia ini. Kini setelah saya menemukan Tuhan, saya melihat bagaimana segala sesuatu dalam hidup saya, kegagalan dan keberhasilan saya, dan penderitaan saya telah menyiapkan saya untuk menjalankan misi saya. Saya kira saya telah memilih tujuan ini 15 tahun yang lalu. Tidak demikian! Saya telah memilihnya sebelum saya dilahirkan.

Ada orang-orang yang mengetahui mengapa mereka ada disini. Mereka menikmati hiudp mereka dan ingin membuatnya juga dapat dinikmati orang lain. Sedangkan yang lainnya tidak memahami hal ini. Mereka menipu, menyakiti dan berkelakuan buruk. Orang-orang ini akan mengalami penyadaran yang keras ketika petualangan itu telah berakhir dan mereka dipanggil pulang. Tidak ada penghukuman tentunya, tetapi akan ada penyesalan. Mereka menyesal karena mereka telah kehilangan kesempatan untuk menggenapi misi mereka.

Ijinkan saya memberi contoh lain. Andaikan anda bertemu dengan seseorang dalam kegelapan dan memukulinya sampai mati. Mungkin karena ia telah menginjak kaki anda dan anda sangat marah atau karena anda ingin merampoknya. Kemudian anda berlari pulang dengan gembira karena tidak seorangpun yang melihat perbuatan anda. Beberapa jam kemudian, anda mendapat telepon dari kantor polisi dan mengetahui bahwa orang yang anda pukuli tadi ternyata adalah ayah anda. Apakah anda akan merasa gembira? Tidakkah anda kemudian akan menghukum diri anda sendiri?

Apapun yang kita lakukan terhadap orang lain sesungguhnya kita lakukan terhadap diri kita sendiri. Kita baru akan menyadarinya jika kita telah meninggalkan dunia ini. Disini orang dapat hidup tanpa nurani. Tetapi tidak di akhirat!

Dalam satu pengalaman menjelang ajal yang saya dengar, seorang wanita mengatakan bahwa ia melalui dua gerbang neraka yang berbeda sebelum ia masuk ke surga. Pertama, ia melihat tempat yang penuh nyala api, dimana setiap jiwa [menurut saya tempat dimana Muhammad dan Hitler] dibakar. Kemudian ia melewati gerbang yang lain. Ini adalah tempat yang terasing, dengan langit yang merah dan bayang-bayang yang panjang. Tempat ini dipenuhi orang-orang yang tenggelam dalam pikiran mereka, tidak peduli pada orang lain di sekitarnya. Wajah mereka penuh penyesalan dan kesengsaraan. Ia mengatakan bahwa yang mengejutkannya adalah gerbang-gerbang kedua neraka itu terbuka lebar dan dapat terlihat dari segala sudut di dalamnya. Tetapi jiwa-jiwa di dalamnya tidak melakukan usaha apapun untuk keluar dari sana. Kisah lainnya adalah seperti yang diceritakan oleh seseorang yang kepadanya diperlihatkan seluruh hidupnya dan dapat memilih untuk masuk surga atau neraka. Ia berkata, saya dapat memilih untuk masuk ke surga tapi saya tahu itu bukan tempat saya.

Berdasarkan apa yang telah saya pelajari dan pahami mengenai dunia yang berikutnya/akhirat, kita sendiri memilih penghukuman kita. Disana, jiwa-jiwa tidak berbicara seperti yang kita lakukan disini. Kita saling membaca pikiran. Ya, disana tidak ada privasi. Semua pikian kita dan seluruh hidup kita diekspos kepada semua orang. Disini kita dapat menyembunyikan pikiran-pikiran kita dan walaupun kita kotor, kita dapat berlagak suci. Disana hal itu tidak mungkin terjadi.

Setelah mempelajari hal ini, saya menyadari jika setiap orang dapat membaca pikiran orang lain, maka dunia ini akan menjadi surga. Disini, ketika kita bertemu dengan seseorang, kita memperlihatkan senyuman palsu di wajah kita seakan-akan kita senang bertemu dengannya sedangkan jauh di lubuk hati kita membencinya dan berencana menipunya. Jika setiap orang dapat mengetahui pikiran semua orang, tidak seorangpun berani mempunyai pikiran yang buruk. Tidak heran, mereka yang mempunyai pengalaman menjelang ajal yang melihat para penghuni surga mengatakan setiap orang mengasihi sesamanya disana. Sudah tentu! Bagaimana orang dapat mempunyai perasaan yang berbeda jika seluruh dunia dapat melihat pikiran-pikirannya?